"Apaan maksudmu?" mata Herlang melotot menatap Della.
"Yaa... Aku harus pergi, Kak. Della nggak ingin hidup Della menderita terus begini." ujar Della jujur.
"Bagaimana dengan bapak dan ibu, Della? Jangan egois." pinta Herlang.
"Bisakah kakak mengurus beliau berdua untuk sementara waktu?" mohon Della.
"Kau hendek pergi kemana, adikku?" Herlang mendekat selangkah pada adiknya.
"Entahlah. Della ingin mengadu nasib, kak." mata Della menerobos cakrawala.
"Dan Della yakin, Della akan menjadi orang sukses yang dapat menggenggam dunia."
"Adikku, percayalah. Kita masih kecil, sementara bapak dan bu sudah sangat renta. Kita harus merawat bapak dan ibu, berdua." Herlang mengelus rambut Della yang mengkilau akibat sinar mentari siang.
"Jangan memberatkanku, kak. Biarkan Della pergi." Della berlari masuk kedalam rumah, ia berniat pamit pada kedua orang tuanya.
Orang tua kedua bocah berusia 12 tahun itu menderita stroke akut, jadi, beliau hanya dapat meenggerakkan mata dan mengangguk pelan saja. Memiliki 9 anak, dan 7 sangat sukses besar, namun, mereka kacang yang lupa kulitnya. Mereka pergi tanpa jejak. Dan saat Della masuk kedalam kamar kedua orang tuanya, keduanya tengah tertidur. Perlahan, Della membangunkan kedua orang tuanya.
"Bapak... ibu... Della izin merantau kenegeri seberang. Kemana saja, yang penting, Della ingin menjadi orang sukses dan membahagiakan bapak dan ibu suatu hari kelak." pamit Della.
Mata kedua orang tua Della bercucuran air mata. Mana mungkin mereka tega membiarkan anak mereka yang baru berusia 10 tahun itu untuk mengadu nasib? Alahkah bahagianya mereka jika dapat sekedar berbicara, namun, mulut serasa terkunci. Dengan berat hati, kedua orang tua Della itupun terpaksa membiarkan Della beberes barang-barang dan keluad, merasa kedua orang tuanya telah memberi restu.
"Della, jangan lupakan kakak..." pesan Herlang seraya memeluk Della.
"Ya, kak. Menyusullah bersama bapak dan ibu ke Jakarta!" seru Della.
"Berjuanglah!" seru Herlang.
~***~
Hujan deras mengguyur tubuh kecil Della yang giat melangkahkan kakinya walau letih merajalela. Dengan semangat berkibar untuk menjadi orang sukses, Della mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melangkahkan kaki menuju Batavia Baru, Jakarta. Tak sial, ia bertemu truk sapi dan diperbolehkan menumpang hingga Tanah Abang.
"Om, sekarang sudah dimana? Kok sepi sekali?" tanya Della ragu-ragu.
"Tenanglah, anak manis. Kita sedang di Bogor. Sebentar lagi sampai." ujar om itu.
5 Jam berlalu. Rasa lelah menggelayuti tubuh dan pikiran Della. Anak kecil itu belum terbiasa bepergian sejauh itu. Ia khawatir om yang tengah menyetir mobil berisi sapi ini berbuat jahat padanya. Setidaknya, ia ingin segera sampai di Jakarta dengan selamat. Ia ingin menyusul kakaknya.
"Om, kapan sampainya?" tanya Della.
"Diamlah atau kau kuturunkan disini." hardik om itu.
"Saya sudah sangat lelah, berapa jam lagi?" tanya Della lebih sopan.
"Mengapa kau tidak bersama orang tuamu, nak?" tanya om itu yang mulai luluh iba.
"Orang tuaku..." air mata Della mengalir deras.
"Oh, tenanglah. Ada apa dengan orang tuamu, nak?" om itu memperhatikan Della khawatir.
"Orang tuaku terkena stroke dan saya ingin mengadu nasib demi kebaikan keluarga." jelas Della.
"Apakah kau tidak mempunyai saudara?" tanya om itu, Della membisu.
Hujan mengguyur, akhirnya sampai juga. Mobil itu berhenti disebuah gubuk tua. Setelah om itu menurunkan muatan sapinya, Della dan om itu masuk kedalam gubuk yang tampak lebih reyot dibanding gubuknya. Heran, mengapa orang Jakarta berumahkan gubuk?
"Yah. Beginilah kondisinya. Tidak mengapa, bukan?" om itu meletakkan tas punggungnya. Della memperhatikan sekeliling dengan seksama.
"Ya, kutahu... Kau pasti sangat heran mengapa orang Jakarta memiliki rumah sejelek gubuk ini... Tak semua
orang Jakarta setajir Budi dan Joko." jelas om itu.
DEG! Budi dan Joko, bukankah itu nama kedua kakak laki-lakinya? Mengapa om itu mengenal kedua abangnya? Sebegitu terkenalnya kedua abangnya? Namun, tiba-tiba, wajah om itu memerah marah dan kesal. Della penasaran dibuatnya, om itu mengeluarkan sebuah kalimat menyakitkan...
"Joko dan Budi, koruptor yang telah mencabik ekonomi Jakarta. Siska dan Putri, si ratu mesum. Dan genk motor jahat, Melati, Mawar dan Kamboja." jelas om itu berapi-api.
"Apa?!" sontak, Della kaget alang kepalang. Nama ketujuh kakaknya disebut sebagai bandit Jakarta. Ketujuh kakaknya yang ia kenal sukses secara jujur, ternyata adalah bandit Jakarta! Perlahan, air mata menetes kembali.
"Kenapa kau, nak?" tanya om itu.
"Om.... Mereka bertujuh adalah kakak dan abangku... Apakah benar sesuai fakta?" tanya Della terisak sedih meratapi masalah ini.
Om itu menatap gadis cilik itu sedih. Ia membenci ketujuh kakaknya, namun sayang menyayangi adik mereka yang berhati lembut dan sopan. Akhirnya, om itu kembali kekampung sang anak kecil itu dan mengangkat ia bersama Herlang menjadi anak angkatnya. Na'as, bapak dan ibu Della kembali kehadirat-Nya saat ia diperjalanan.
~***~
Intinya, jika kalian mempunya keluarga, kenalilah keluargamu sendiri. Jika kau telah mengenali keluargamu dan ternyata ia baik, jagalah dengan segenap nyawamu sebelum ia meninggalkanmu untuk selamanya. Tak selalalu jeruk cantik rasanya manis. Tak selalu nama yang baik, sebenarnya adalah baik.
Credits: Hana' Sausan